Pages

Saturday, June 4, 2016

aku belum layak

Apa, tanya mereka
Aku lari, lari
Menjejak butir-butir
kecokelatan, halus
kasar, putih
karang, bergesek
kuning, menggoda
Terus, terus tak jua berhenti
Kakiku menari
lewat Bali tertitih
sembunyi-sembunyi berjinjit ke Lombok
meloncat-loncat jelajahi pantai karang
meluncur masuk Raja Ampat
tanpa napas kubelah laut sampai Wakatobi
hingga ambil udara kutarik di Derawan
Dan kerang-kerang itu curi pandangku
Koral-koral dan terumbu karang berkilat manis menyambut
Aduh,
kapan lariku akan berujung?
Dikejar tanya
Diburu alam
Apa riak-riak air tahu rahasiaku?
Pertiwi, wahai pertiwi
Masih sanggupkah engkau
buai tubuhku?
Dingin oleh ketidakacuhan
Panas dibara amarah
Diam di bawah sinar terik
Terpaku diterjang tetes-tetes tanya
Aku, yang penuh keraguan

Namun aku pula
yang sibakkan rahasiamu
Satu, satu, semakin dalam
Makin jatuh 'ku terpesona
Kaki yang berlari ini,
bolehkah tunjukkan
cinta padamu?

Aku kabur,
ya, aku lari
Dikempari kata-kata tanya
Tapi aku bisa menyahut apa yang
tidak mereka serukan
Walau ragu menyisip
saat jawab hendak kuucap

Rasanya aku tak
mengenalmu
Jika dihadapkan pada
tanda tanya mereka
Tapi kaki yang
belum betemu lelah ini
Bolehkah menyatu denganmu?
Layakkah, wahai nirwanaku,
cinta yang seperti itu?

No comments:

Post a Comment