Sejenak,
mataku mencari-cari orang yang dimaksud sebelum akhirnya melihat sosok yang
tidak asing namun terlihat sangat berbeda. James tidak memakai jaketnya. Ia
terlihat mengobrol bersama beberapa anak yang aku tahu biasanya tidak pernah
mengobrol dengannya. Terkadang anak lelaki itu memang hanya diam saja, namun
jelas ia berusaha keras untuk beradaptasi dengan teman-teman barunya.
Di
sebelahku, Kyra terlihat puas. “Mengejutkan, ya? Kebetulan tadi aku melihatnya
saat hendak masuk ke kelas.”
“Memang.
Tapi bisa tidak jangan bicara keras-keras?” aku melotot pada Kyra. Sahabatku
ini cantik. Jenis orang yang akan membuat banyak sekali laki-laki patah hati.
Karena di balik kulit putih, rambut panjang lurus yang gelap, dan mata
cokelatnya yang memesona itu, ada hati yang dingin. Tak pernah sekalipun ia
menyukai lawan jenisnya. Aku sampai kasihan pada para siswa yang menyukainya.
“Hanya
itu reaksimu? Tidak ada pekikan, tidak ada loncat-loncat, atau apapun yang
menunjukkan kekagetanmu?” Kyra terus bicara tanpa memedulikan peringatanku
tadi. Matanya mencari-cari reaksi yang ia harapkan dariku.
Aku
hanya bisa mendesah. Aku menyukai James sejak 2 tahun lalu, tapi aku tidak
pernah berusaha mengejarnya. Aku hanya mengamati sosoknya yang berjaket dari jauh,
dari balik tudung jaketku, dari balik rasa sakit yang timbul di hatiku karena
aku tidak pernah berani untuk mendekatinya. Orang bilang jodoh tak akan kemana,
jadi aku memutuskan untuk diam saja di tempatku sekarang ini. Kemarin kami
masih sama-sama memakai jaket, jadi kurasa kalau aku menginginkannya, masih ada
kemungkinan. Tapi... “Apa sekarang masih ada kemungkinan, Ra?”
Sahabatku
cemberut, tapi tidak lama kemudian ia menjawab, “Dari dulu juga tidak pernah
ada kemungkinan, Charlotte. Kamu tidak pernah berusaha, sih.” Tangannya meraih
milikku dan menggandengku kembali ke kelas. “Kalau kamu berusaha, pasti akan
ada kemungkinan.”
Aku hanya
bisa menghela napas dalam.
James
sudah menjadi bagian dari hidupku sejak 2 tahun lalu. Jam istirahatku di
sekolah mulai berkurang sejak aku berusaha mengamatinya. Aku tahu banyak hal
tentangnya. Tentang kebiasaannya memakai jaket di sekolah, sifatnya yang juga
pemalu sepertiku, teman-temannya, sampai tentang otaknya yang brilian. Tapi aku
ragu dia tahu satu hal pun tentang aku. Aku bahkan tidak yakin dia tahu
keberadaanku di sekolah ini.
Jangan
tanya aku kenapa aku menyukainya. Aku hanya sering melihatnya di tahun
pertamaku di SMP ini, dan tanpa kusadari aku menyukainya. Kyra bilang, aneh
sekali aku bisa menyukai seseorang yang juga pemalu. Tapi, siapa yang bisa
mengontrol perasaannya sendiri?James tidak terlalu menarik. Tingginya biasa saja untuk ukuran anak lelaki, dan sering kali matanya tersembunyi dibalik tudung jaketnya, sementara rambut hitamnya membayang di hidungnya yang mancung. Tapi, seiring berlalunya waktu, aku menyadari ketampanannya. Tanpa jaket, semua orang bisa melihat ikal rambut hitamnya, alisnya yang melengkung dengan sempurna, pancaran kecerdasan di matanya, hidung mancungnya yang indah, dan bibirnya yang selalu membentuk senyuman mirip seringai. Dengan kata lain, ia mulai memanjat ke atas daftar siswa yang paling diinginkan para siswi di sekolah. Apalagi setelah dia ditarik menjadi anggota OSIS di tengah-tengah tahun ajaran. Sementara itu, aku tetap sebagai salah satu yang terbawah di daftar para siswi yang tidak menarik.
Aku terlalu hanyut dalam arus pikiranku sendiri, sampai-sampai tidak menyadari dering handphone-ku. Kujulurkan tangan dari tempat tidur dan mengambil benda berwarna hitam itu dari meja belajarku. Nama 'Kyra' terpampang di layar. Kujawab teleponnya dengan desahan.
"Hai, Charlotte! Kamu tahu OSIS mengadakan lomba menulis? Kupikir kamu harus coba." Seperti biasa, Kyra langsung bicara tanpa basa-basi.
"Ugh Kyra. Kamu tahu kan, kalau aku tidak suka ikut lomba?" aku mengeluh sembari menyusurkan tangan di rambutku. Aku tidak pernah yakin pada diriku sendiri saat mengikuti lomba. Dulu, setiap kali ada lomba menulis, aku selalu mengikutinya. Tapi kemenangan tidak pernah ada di pihakku. Setelah berusaha terus selama 3 tahun, aku berhenti. Aku hanya menulis di blog dan laptopku.
Kyra menghela napas dalam, "Kalau kamu ingin James tahu keberadaanmu, setidaklah ikutlah lomba yang diadakan OSIS. Sekarang kan dia jadi anggota OSIS, siapa tahu dia juga akan membaca karyamu." Terdengar bunyi barang jatuh di telepon. "Walau karyamu tidak menang, mungkin saja dia akan tertarik. Atau setidaknya dia tahu namamu."
"Tadi itu suara apa? Ada barang yang jatuh ya?" aku menggigit bibir.
"Jangan alihkan perhatian." ujar Kyra tegas. Sulit sekali memang mengalihkan perhatian sahabatku ini. Ia terlalu fokus, sama seperti kedua orang tuanya.
Aku menelan ludah sebelum akhirnya menjawab, "Akan aku pertimbangkan..."
"Bagus!" Kyra menepukkan tangannya sebelum melanjutkan obrolan kami. "Omong-omong, yang tadi itu suara tasku yang jatuh dari meja."
Aku menjawabnya, dan kami terus mengobrol hingga senja tiba.
"Juara harapan pertama! Selamat Charlotte!" Kyra memekik di depan papan pengumuman. "Tidak sia-sia, kan?"
Aku memandang tepat ke dalam mata sahabatku yang memancarkan rasa bangga dan puas. Aku sendiri merasa terkejut dengan kemenangan yang kuraih. Dia memang benar - aku pasti bisa kalau berusaha. "Kamu memang sahabat terkeren di dunia! Terima kasih banyak ya. Tanpa dukungan dan paksaan kamu, aku tidak mungkin meraih posisi ini."
Kyra spontan memelukku. Aku balas memeluknya dengan lebih erat. Kemudian, ingatanku melayang balik 3 minggu yang lalu.
Aku memeras otakku untuk mencari ide, dan setelah menemukannya, aku menuangkan segala energi serta pikiranku ke dalam tulisanku. Aku berkejaran dengan waktu, dan ketika aku mengumpulkan sendiri tulisanku itu ke ruang OSIS pada saat-saat terakhir pengumpulan, tanganku berkeringat dan bibirku kering. Sepuluh hari setelah pengumpulan itu, di sinilah aku dan Kyra, berpelukan seerat mungkin melihat pengumuman lomba di papan putih ini. Semua jerih payahku terbayar.
Tapi aku tahu, juara satu pun tidak menjamin James akan tahu atau tertarik tentang aku. Belum tentu dia membaca tulisanku. Hanya dengan satu kali muncul, namaku tidak akan terpatri di benaknya. Dan saat itu juga, aku tersadar. Kalau aku memang menyukainya, aku harus menunjukkannya. Aku harus mengejarnya. Aku perlu melakukan yang lebih lagi agar dia tahu keberadaanku. Dia sudah ada di jajaran murid-murid yang terkenal di sekolah, dan aku perlu mengejarnya kalau aku menginginkan dia. Aku harus bisa menunjukkan bahwa aku layak baginya. Dan untuk itu, aku harus berubah.
Minggu pertama ini rasanya seperti di neraka tanpa jaketku. Aku berusaha mengobrol dengan beberapa teman lain, dan berusaha mengabaikan pandangan heran dari teman-temanku yang lain. Ini semua masih terasa mudah karena ada Kyra yang gampang bergaul. Tapi selain menambah teman, aku juga berusaha lebih aktif di kelas. Inilah bagian yang sulit. Memberikan usul, menjawab pertanyaan, dan mengabaikan sindiran beberapa teman. Rasanya malu dan kesal karena tidak ada yang mau mendukung perubahanku. Mereka semua selalu bilang kalau aku ini pemalu dan mereka mengharapkanku menjadi lebih berani. Tetapi sekarang ini, di saat aku mencoba keluar dari cangkangku, kenapa mereka malah mengejek dan mendorongku untuk masuk kembali dan bukannya mendukungku? Aku jadi bertanya-tanya, apakah James juga menderita seperti ini saat ia melepaskan jaketnya dan berubah?
Minggu pertama ini rasanya seperti di neraka tanpa jaketku. Aku berusaha mengobrol dengan beberapa teman lain, dan berusaha mengabaikan pandangan heran dari teman-temanku yang lain. Ini semua masih terasa mudah karena ada Kyra yang gampang bergaul. Tapi selain menambah teman, aku juga berusaha lebih aktif di kelas. Inilah bagian yang sulit. Memberikan usul, menjawab pertanyaan, dan mengabaikan sindiran beberapa teman. Rasanya malu dan kesal karena tidak ada yang mau mendukung perubahanku. Mereka semua selalu bilang kalau aku ini pemalu dan mereka mengharapkanku menjadi lebih berani. Tetapi sekarang ini, di saat aku mencoba keluar dari cangkangku, kenapa mereka malah mengejek dan mendorongku untuk masuk kembali dan bukannya mendukungku? Aku jadi bertanya-tanya, apakah James juga menderita seperti ini saat ia melepaskan jaketnya dan berubah?
Minggu kedua ternyata tidak jauh berbeda. Masalahnya, aku merasa ingin mundur, kembali ke jaketku. Tapi Kyra bilang, kalau aku mundur, masalahnya tidak akan pernah selesai. Mereka akan menganggapku anak yang sok berani, sok alim, juga pengecut.
Aku dan Kyra sudah pernah membahas tentang ini bersama-sama. Dan sebelum memulai pun aku sadar kalau aku tidak akan pernah bisa mundur. Namun sekarang aku sadar, saat sudah mulai didijalani, sesuatu yang tadinya kau kira mudah ternyata bisa menjadi amat sulit.
Mereka yang memang pandai bergaul mungkin tidak pernah merasa kesulitan mengobrol, atau berbicara di depan kelas. Tapi bagiku, mencari topik dan membuat topik itu menarik untuk diobrolkan bukanlah suatu hal yang mudah, bahkan saat lawan bicaraku adalah seorang yang mudah bergaul dengan siapapun. Belum lagi saat aku harus mempersentasikan sesuatu di depan kelas sendirian. Saat aku merasa gugup dan melupakan beberapa kalimat yang harus kuucapkan, dan harus merangkai kalimat-kalimat baru secepat mungkin agar nilaiku bisa terselamatkan.
Berubah itu memang suatu hal yang sulit. Dan bahkan saat berubah itu aku merasa tidak yakin apakah penderitaanku ini akan bisa dibayar dengan perubahan yang akan terjadi nanti. Aku tidak yakin apakah nanti perubahan itu akan membuatku menjadi lebih gembira atau tidak. Aku bahkan tidak yakin apakah perubahan itu akan seperti yang kuinginkan. Aku terjebak, dan satu-satunya pilihan hanyalah lanjut. Aku bingung dan tersesat, namun aku tahu aku hanya perlu terus berjalan maju, melalui berbagai rintangan ada di depanku. Semuanya terasa berat untuk dilakukan, karena dalam perjalanan ini, rasanya tidak ada suatu pun yang pasti. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk bertahan. Aku tahu aku lah yang telah memutuskan untuk terjun. Aku tahu aku harus jatuh, melayang dalam ketidakpastian sebelum menyentuh tanah yang pasti. Aku tahu, ini tidak hanya demi mengejar dia yang kuimpikan, tetapi juga demi diriku sendiri.
Setidaknya minggu ini sudah aja kemajuan. Ada lebih banyak teman yang bisa diajak mengobrol. Memang tidak seseru dan senyaman mengobrol bersama Kyra. Seorang sahabat memang tiada duanya. Aku mungkin tidak bisa sering-sering menulis perkembanganku lagi. Banyak tugas dan tantangan yang harus aku hadapi karena sebentar lagi ujian akhir semester. Aku harap semuanya berjalan dengan baik. Aku tidak tahu apakah aku akan bisa menyeimbangkan antara belajar dan bersosialisasi. Karena bersosialisasi ternyata melelahkan. Menjaga percakapan agar tetap seru itu membuat lelah. Namun lelah dengan cara yang berbeda dari ketika kita berolahraga atau belajar. Lebih tepatnya lelah secara mental. Aku mungkin lancar saat menulis, tapi kata-kata tidak keluar dari mulutku semudah huruf-huruf yang keluar dari pikiranku saat aku menggoreskan pena di atas kertas. Terkadang aku merasa tidak nyaman dan takut akan apa yang teman-teman pikirkan dan bicarakan tentang diriku saat aku tidak mendengar. Sulit rasanya untuk terus berusaha. Aku tidak bisa tahu apakah teman-teman benar-benar tulus saat mereka bilang, "Ayo berubah, Charlotte! Lebih berani, ya." Kuharap mereka memang benar-benar tulus. Tapi Kyra selalu menyemangatiku, mengatakan bahwa ini hidupku dan aku lah yang memutuskan segalanya. Orang lain tidak punya hak mengaturnya, namun mereka bisa menyakitiku dan membuatku berubah. Maka itu aku harus yakin pada diriku sendiri, percaya bahwa aku melakukan yang terbaik demi diriku sendiri. Jika aku membiarkan diriku disakiti oleh mereka, berarti mereka telah mengambil kendali hidupku.
Beberapa minggu terakhir ini, semuanya berjalan cukup lancar walau aku lelah. Ujian semester telah usai, namun perjuanganku untuk berubah belum selesai. Melihat James selalu membuatku kembali semangat, bagaikan baterai yang kembali terisi ulang. Tapi Kyra mendapat informasi bahwa dia akan pindah kenaikan kelas ini. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tahu aku akan tetap lanjut walaupun James pergi. Tapi apa aku bisa bertahan saat salah satu alasanku untuk berubah pergi? Kurasa aku harus mencoba untuk mengetahui jawabannya.....
"Lihat." Kyra menunjuk kerumunan anak laki-laki di dekat kantin sekolah.
Aku menempelkan wajahku di jendela perpustakaan, mencoba melihat lebih jelas. Tetes-tetes air di jendela membuatku sulit menangkap sosoknya. Tapi akhirnya aku melihat ikal-ikal hitam yang kukenal di bawah payung hijau gelap. Tas hitamnya diselempangkan di bahu seperti biasanya, dan di antara teman-temannya, senyumnya terlihat jelas. Kalau ini hari yang biasa, semestinya ia sudah pulang kira-kira sejam yang lalu. Tapi ini hari terakhirnya di sekolah ini. Kesempatan terakhirnya untuk menguntai memori di sekolah ini. Dan hari ini mungkin hari terakhirku melihatnya. Kesempatan terakhirku untuk mematri wajahnya dalam ingatanku, sebelum nanti melanjutkan hidupku dan melupakan mimpiku tentang dia.
Aku menahan napas melihatnya berbalik dan melangkah melalui gerbang sekolah. Begitu dia berbelok, aku tidak akan bisa melihatnya lagi. Habislah harapanku tentang dia. Tapi setidaknya dia sudah memberiku semangat untuk berubah. Dia sudah merubahku, walau ia sendiri tidak sadar, tidak tahu tentang hal itu.
Sepertinya Kyra mengetahui apa yang ada dalam pikiranku, karena tiba-tiba ia berkata, "Tunggu apa lagi? Ayo cepat ke gerbang!"
Dia menarik tanganku dan setengah menyeretku keluar perpustakaan. Aku berusaha mengikuti kecepatan jalannya, namun tidak berhasil. Dan ketika kami sampai di halaman sekolah, ia mulai berlari. Aku pun mengikutinya. Dia sudah mengusahakan yang terbaik untukku, jadi aku juga harus melakukan yang terbaik demi diriku sendiri.
Di dekat gerbang kami berdua berhenti berlari. Aku berjalan cepat sampai keluar gerbang disusul oleh Kyra, dan mendapati diriku bernapas lega karena aku masih bisa melihat punggung James. Rambut hitamnya sesempurna yang kuingat dan caranya berjalan persis seperti dalam ingatanku. Dari sini aku masih bisa mendengar suara tawanya dan suara teman-temannya.
Aku puas hanya dengan melihatnya seperti itu, tapi aku masih ingin melihatnya lebih lama lagi. Jadi aku pun berjalan dan terus berjalan tanpa menunggu Kyra. Tapi saat aku berbelok, James terlihat sedang masuk ke sebuah taksi. Aku melihat kilasan mata gelapnya yang selalu muncul dalam mimpi-mimpiku saat ia melipat payungnya dan menutup pintu taksi. Kendaraan kuning itu kemudian melaju, membawa serta orang yang kusayangi.
Beberapa minggu terakhir ini, semuanya berjalan cukup lancar walau aku lelah. Ujian semester telah usai, namun perjuanganku untuk berubah belum selesai. Melihat James selalu membuatku kembali semangat, bagaikan baterai yang kembali terisi ulang. Tapi Kyra mendapat informasi bahwa dia akan pindah kenaikan kelas ini. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tahu aku akan tetap lanjut walaupun James pergi. Tapi apa aku bisa bertahan saat salah satu alasanku untuk berubah pergi? Kurasa aku harus mencoba untuk mengetahui jawabannya.....
"Lihat." Kyra menunjuk kerumunan anak laki-laki di dekat kantin sekolah.
Aku menempelkan wajahku di jendela perpustakaan, mencoba melihat lebih jelas. Tetes-tetes air di jendela membuatku sulit menangkap sosoknya. Tapi akhirnya aku melihat ikal-ikal hitam yang kukenal di bawah payung hijau gelap. Tas hitamnya diselempangkan di bahu seperti biasanya, dan di antara teman-temannya, senyumnya terlihat jelas. Kalau ini hari yang biasa, semestinya ia sudah pulang kira-kira sejam yang lalu. Tapi ini hari terakhirnya di sekolah ini. Kesempatan terakhirnya untuk menguntai memori di sekolah ini. Dan hari ini mungkin hari terakhirku melihatnya. Kesempatan terakhirku untuk mematri wajahnya dalam ingatanku, sebelum nanti melanjutkan hidupku dan melupakan mimpiku tentang dia.
Aku menahan napas melihatnya berbalik dan melangkah melalui gerbang sekolah. Begitu dia berbelok, aku tidak akan bisa melihatnya lagi. Habislah harapanku tentang dia. Tapi setidaknya dia sudah memberiku semangat untuk berubah. Dia sudah merubahku, walau ia sendiri tidak sadar, tidak tahu tentang hal itu.
Sepertinya Kyra mengetahui apa yang ada dalam pikiranku, karena tiba-tiba ia berkata, "Tunggu apa lagi? Ayo cepat ke gerbang!"
Dia menarik tanganku dan setengah menyeretku keluar perpustakaan. Aku berusaha mengikuti kecepatan jalannya, namun tidak berhasil. Dan ketika kami sampai di halaman sekolah, ia mulai berlari. Aku pun mengikutinya. Dia sudah mengusahakan yang terbaik untukku, jadi aku juga harus melakukan yang terbaik demi diriku sendiri.
Di dekat gerbang kami berdua berhenti berlari. Aku berjalan cepat sampai keluar gerbang disusul oleh Kyra, dan mendapati diriku bernapas lega karena aku masih bisa melihat punggung James. Rambut hitamnya sesempurna yang kuingat dan caranya berjalan persis seperti dalam ingatanku. Dari sini aku masih bisa mendengar suara tawanya dan suara teman-temannya.
Aku puas hanya dengan melihatnya seperti itu, tapi aku masih ingin melihatnya lebih lama lagi. Jadi aku pun berjalan dan terus berjalan tanpa menunggu Kyra. Tapi saat aku berbelok, James terlihat sedang masuk ke sebuah taksi. Aku melihat kilasan mata gelapnya yang selalu muncul dalam mimpi-mimpiku saat ia melipat payungnya dan menutup pintu taksi. Kendaraan kuning itu kemudian melaju, membawa serta orang yang kusayangi.
Aku terdiam di trotoar. Kyra menyusulku dan menaungi tubuhku dengan payung ungunya. Dan baru saat itulah aku tersadar. Tubuhku basah kuyup oleh tetesan air hujan.
***
Dua tahun kemudian
Rapat OSIS baru saja selesai saat hujan mulai turun dengan derasnya. Aku mendesah. Kenapa harus hujan sekarang?
"Kamu pulang naik apa?" Kyra bertanya sambil membantuku membereskan berkas-berkas yang dipakai untuk rapat tadi.
"Aku naik ojek. Kebetulan hari ini orang tuaku tidak bisa menjemput," jawabku.
Kyra tertawa. "Sepertinya untuk rapat pertamamu sebagai ketua OSIS kamu harus lembur! Maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang ya."
"Hahahaha.. Tidak apa-apa, aku mengerti kok. Kamu pulang duluan saja. Kamu kan harus bersiap-siap untuk acaranya keluargamu," kataku padanya.
Sahabatku itu menaruh setumpuk kertas kembali ke laci yang ada di sudut ruangan sebelum membalas perkataanku, "Kamu yakin?"
Aku mengangguk sambil menatap mata cokelat gadis itu.
"Maafkan aku ya... Rapat berikutnya aku akan menemani sampai kamu pulang," janjinya. Aku hanya tersenyum dan memandanginya saat ia meraih ranselnya dan membuka pintu. Sebelum pintu tertutup, Kyra memandangku dengan tatapan meminta maaf.
Setelah ia pergi, aku duduk di salah satu kursi yang ada dalam ruangan dan mengutak-atik handphone-ku. Tapi tidak butuh waktu lama sampai aku merasa bosan. Tidak banyak yang bisa kuajak mengobrol. Kebanyakan temanku sedang les atau dalam perjalanan pulang dari rapat dan tidak bisa membalas message dariku.
Aku memutuskan untuk berdiri saja di selasar yang menghadap halaman sekolah. Hujan masih belum berhenti dan tidak ada seorang pun yang bisa kulihat. Sepertinya para karyawan sudah berteduh di pos masing-masing dan guru-guru juga sudah pulang.
Sebuah tangan mencolek pundakku. Aku terlonjak kaget dan berbalik. Di belakangku, berdirilah seorang pemuda berambut hitam agak ikal dengan mata yang memancarkan kecerdasan dan kepercayaan diri. Alis tebalnya melengkung sesempurna dan saat ia tersenyum jantungku serasa jungkir balik.
"Bagaimana rapat pertamamu sebagai ketua OSIS, Charlotte?" ia bertanya.
"James...." aku terkesiap. Benakku tidak bisa memproses apa pun. Apa aku berhalusinansi?
"Aku tahu tentang kamu sejak lama Charlotte. Tapi baru minggu lalu aku tahu kalau dulu kamu juga pernah punya perasaan yang sama denganku," James berkata pelan. Namun ucapannya begitu kuat sehingga aku terlontar dari pikiranku. Aku tidak tahu harus berkata apa atau berbuat apa. Aku tidak tahu bagaimana aku harus bereaksi dan rasanya sulit sekali untuk mencerna perkataannya.
"Maafkan aku karena tidak sempat datang ke rapat lomba kemarin. Tapi karena aku ketua OSIS juga, aku janji akan membayarnya dengan lebih banyak waktuku, Charlotte. Bahkan di luar jam rapat. Bagaimana kalau aku mulai membayarnya sekarang?" James melanjutkan perkataannya. Ia mengatakannya dengan santai dan cukup percaya diri, tapi aku tahu, di dalam dirinya ada keraguan. Aku masih mengenal suaranya dan aku masih mengingatnya begitu jelas dalam ingatanku. Ia masih sama seperti dulu.
Aku cepat-cepat mengumpulkan kesadaran dan keberanianku. "Apa maksudmu?"
James ragu sejenak sebelum menjawab pertanyaanku, "Aku menyukaimu. Lalu aku menyadari kalau aku jatuh cinta padamu dan aku cukup sayang padamu sampai-sampai aku rela berubah. Semua perubahanku, semua yang kucapai, semuanya berawal darimu."
Aku terdiam. Rasanya aku seperti berada di luar angkasa. Tanpa oksigen dan melayang-layang ditengah ketidakpastian. Apa semua yang dikatakannya itu benar? Tapi aku memutuskan untuk mengambil resiko dan mengatakan yang sebenarnya, "Aku... Aku juga. Aku melihatmu berubah dan aku juga ingin berubah. Aku ingin bisa bersamamu jadi aku berusaha mengejarmu. Aku.. um.."
"Maaf aku pergi. Itu bukan keinginanku. Aku ingin melihatmu berubah juga, tapi aku tidak bisa.." James menatapku dengan gugup dan berusaha melanjutkan ucapannya, "Aku... Ayahku.."
Saat mata James bertemu dengan mataku, semua keraguan dalam diriku sirna. Aku memilih untuk mengambil resiko dan mempercayainya. "Tidak apa-apa. Sekarang kita bertemu lagi. Dan kita masih akan sering bertemu untuk urusan lomba, kan?"
James tersenyum dan ia kelihatan lebih rileks. "Tapi setelah itu, apa menurutmu akan ada banyak waktu bagi kita untuk memperbaiki segalanya?"
Aku menyeringai saat menjawab, "SMA sibuk dan ini tahun terakhirmu kan? Sepertinya kamu yang harus kutanya seperti itu."
James tampak salah tingkah. Kali ini ia tidak bisa memikirkan perkataan yang pas untuk menjawab ucapanku itu.
Dalam hati aku tersenyum lebar. Rasanya seperti mimpi. Semuanya begitu indah dan berjalan lancar. Aku tidak ingin merusaknya, jadi aku menjawab, "Kamu punya waktu sebanyak yang kamu mau."
James tersenyum lebar. "Apa benar kamu sudah menyukaiku sejak empat tahun lalu?"
Kali ini giliran aku yang salah tingkah. Siapa yang memberitahunya tentang hal itu? Tidak ada yang tahu selain....
"Kyra yang membertahuku. Jangan marah ya. Seminggu yang lalu aku berusaha mencari orang yang bisa dihubungi tentang lomba antarsekolah ini dan aku berhasil menemukan nomor hp Kyra. Tapi sepertinya aku tidak pandai menyembunyikan perasaanku padamu karena tidak lama kemudian ia menceritakan segalanya tentangmu padaku..." James menunduk saat ia menyelesaikan ucapannya.
"Tahu tidak? Kurasa kamu bisa mulai membayar ketidakhadiranmu di rapat kemarin mulai dari sekarang." AKu berusaha menjawab dengan tenang walau aku mulai merasakan wajahku memerah.
James memandangiku sejenak sebelum akhirnya membuka mulut, "Kamu tahu tidak? Kamu sama cantiknya seperti saat kamu berdiri di tengah hujan pada hari terakhirku di sekolah dua tahun lalu."
Aku menarik napas dan tidak mengeluarkannya lagi. Aku terlalu terkejut. Aku bahkan tidak bisa bereaksi apapun saat ia meraih tanganku dan menggenggamnya, membawaku melintasi halaman di bawah curahan tangisan langit.
Ia berhenti sebentar di tengah hujan dan berseru, "Aku mencintaimu Charlotte! Lama sebelum kamu tahu itu!"
Aku balas berteriak di tengah ramainya rintik air, "Aku mencintaimu lebih dari yang kamu tahu, James! Jauh lebih lama bahkan sebelum diriku sendiri tahu itu!"
Kemudian kami berlari ke trotoar dan James membukakan pintu mobilnya untukku sebelum ia masuk dan duduk di kursi pengemudi. Kami tersenyum dan dan saling menatap, men yadari betapa besarnya perubahan yang telah cinta buat dalam diri kami. Kemudian ia menyentuh pipiku dan sebelum aku sadar, bibir kami bersentuhan. Sekali lagi, aku merasa berada di luar angkasa. Namun kali ini, aku bersamanya. Dan kuharap kami tidak terpisah lagi.
Langit hari ini kelabu dan berawan, tapi aku yakin langit sedang meneteskan air mata kebahagiaan.
No comments:
Post a Comment