Pages

Wednesday, December 2, 2015

Bagai Rintik-Rintik Hujan

Pernahkah kau menengadah
Dan sejauh mata memandang
Langit tetap kelabu
Tanpa sinar mentari

Pernahkah kau berdiri
Dan sejauh kaki melangkah
Semua terlihat begitu jauh
Dijurangi oleh tahun-tahun perjuangan

Pernahkan kau membuka mata
Dan senyummu memudar
Melihat realita di bawah kakimu
Bergeser memperlihatkan bayangan kelamnya

Dan kau jatuh
Jatuh bagai rintik-rintik hujan
Tak berhenti dan tak diperlambat
Jatuh tepat menuju tanah yang keras

Tetes-tetes air itu
Memercik hancur oleh kerasnya kenyataan
Berkeping-keping bentuknya
Sampai alam pun tak lagi mengenalinya

Keping-keping itu
Menyatu dengan pecahan lainnya
Mengalir jauh dan makin jauh
Hilang tanpa ada yang menyadari ke mana

Aliran itu
Nyata namun tanpa arah
Mengalir namun tak diindahkan
Hingga membentuk sesuatu yang lebih besar

Sungai itu mengalir deras dalam jalurnya
Namun tetes-tetes air yang membentuknya
Tak dikenali lagi
Dan mereka menangis dalam derunya
Air mata mereka hilang ditelan aliran lainnya

No comments:

Post a Comment