Seumur hidup, belum pernah ada satupun anak laki-laki yang kusukai.
Tidak pernah ada. Sementara teman-temanku sibuk mengejar 'gebetan'nya,
aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka, memberi saran kepada mereka,
dan lain sebagainya. Aku tidak keberatan jika mereka lebih sering
melamunkan gebetan masing-masing daripada berbicara denganku. Toh, aku
adalah kutu buku yang tidak banyak bicara dan lebih banyak membaca.
Hahahahaha.. Tapi memang benar, aku merasa berada di dalam duniaku
sepenuhnya ketika membaca. Pikiran dan perhatianku sepenuhnya tercurah
ke dalam buku yang kubaca. Aku merasa sangat senang ketika membaca.
Tetapi
suatu saat itu semua berubah. Perubahan yang terjadi secara
perlahan-lahan hingga tak kusadari. Dan semuanya itu bermula di suatu
hari Senin yang biasa.
Hari Senin itu, aku ada kelompok belajar
biologi di sekolah sehingga akan pulang terlambat. Kelompokku terdiri
dari 5 orang. Dan kami semua sedang mengerjakan soal dari buku paket
saat hujan mulai turun dengan derasnya. Astagaa.. Gimana mau pulang nih? Aku menggerutu dalam hati, tetapi terus mengerjakan soal itu.
Waktu
berlalu dan akhirnya aku pun selesai mengerjakan soal-soal yang ada.
Tetapi ada satu soal yang tidak kumengerti. Saat kutanyakan pada
Jessica, salah satu anggota kelompokku, ia mengaku tidak mengerti soal
tersebut. Anggota kelompokku yang lain juga tidak tahu. Akhirnya Jessica
memberi usul untuk bertanya kepada seorang kakak kelas 9 kenalannya
yang kebetulan berada di dekat kami, mengobrol bersama teman-temannya.
Kami semua setuju pada usul Jessica itu. Masalahnya, Jessica merasa
takut dan sungkan karena melihat kakak kelas itu, yang bernama Jackson, sedang asik bercanda dan tertawa-tawa bersama teman-temannya yang lain.
Padahal, Jessica adalah satu-satunya orang di kelompok kami yang
mengenal Kak Jackson itu. Kan, tidak lucu, kalau ada orang yang tidak
mengenal seseorang, tapi mau memanggil orang yang tidak dikenalnya itu!
Akhirnya salah seorang anggota kelompok kami memberanikan diri memanggil
Kak Jackson itu.
Ketika senior kami itu datang, Jessica segera
menanyakan soal yang membuat kami bingung itu. "Boleh liat buku paket
kalian ga?" Kak Jackson berkata. "Boleh pinjemin buku lu ga? Buku gue udah
penuh coretan nih.. Hehehehehe.." Jessica menoleh kepadaku, nyengir.
"Hahaha! Dasar! Okelah.." sahutku. Kemudian, dengan hati-hati kuberikan
buku itu kepada Kak Jackson.
Yah, maklum lah, Jessica itu rajin
belajar dan suka belajar dengan posisi tidur, jadi bukunya penuh coretan dan.. yaa bisa bisa dibilang agak 'berantakan'.. Sementara aku,
walaupun nilai-nilaiku bagus (bukan bermaksud nyombong..), buku paketku
masih mulus dan hanya ada sedikit coretan.
Setelah melihat-lihat
buku paketku selama beberapa saat, Kak Jackson memberikan jawaban yang
cukup memuaskan dan membuat kami jadi lebih mengerti. Apalagi, ketika
kami tanyakan pada guru kami keesokkan harinya, ternyata jawaban dari
Kak Jackson itu benar! Pinter juga tuh kakak kelas.. Padahal tampangnya nakal banget.. Hihihihihi..
Beberapa
hari setelah itu, SMP kami mengadakan acara bersama. Dalam acara itu,
aku tanpa sengaja melihat Kak Jackson sedang duduk bersama beberapa
temannya. Saat itu aku sedang bersama Jessica dan Carla yang memang
merupakan beberapa di antara sahabat-sahabat baikku. Di sela-sela acara
aku beberapa kali mencuri pandang ke arah Kak Jackson. Entah alasan apa
yang membuatku mencuri-curi pandang seperti itu, tetapi aku tidak bisa
menahan keinginan itu. Padahal menurutku orang itu jelek, nakal, dan
sama sekali tidak menarik. Tetapi kelihatannya hatiku berbeda pendapat
dengan otakku..
Suatu saat, ketika aku meliriknya, aku melihat ia
melihat ke arah kami. Atau lebih tepatnya, ke arah Jessica. Setidaknya
itulah yang kulihat. Dan entah kenapa, hatiku terasa aneh. Sakit. Tetapi
saat itu, aku belum menyadari 'perubahan' yang sedang terjadi.
Sejak
acara sekolah itu, setiap kali melihat Kak Jackson jantungku berdetak
lebih cepat dari biasanya, dan rasanya mukaku memerah. Dan akhirnya, aku
pun menyadari apa yang terjadi. Aku, cewek yang biasanya paling
anti-cowok, suka dengan seorang kakak kelas! Astaga! Itu sih seperti
pungguk merindukan bulan! Aku saja baru kelas 7, seorang junior di SMP
ini. Dan sekarang, aku malah suka dengan senior?
Tanpa aku sadari,
aku lebih rajin belajar biologi. Buku paket biologi yang sebelumnya aku
perlakukan cukup kasar karena ketidaksukaanku pada pelajaran biologi, kuperlakukan lebih lembut. Aku masih ingat
pertama kalinya kami bertemu. Di tengah-tengah hujan di siang hari
Senin. Bagaimana dia memegang bukuku itu dan caranya yang sabar dalam
menjelaskan kepada kami tentang pertanyaan yang tidak kami mengerti itu.
Astagaaaa! Kenapa aku jadi galau begini?
Hujan dan buku
paket biologi. Sekarang hanya itu yang mengingatkanku pada Kak Jackson.
Karena setelah melewati Ujian Nasionalnya dengan sukses, aku tidak
pernah lagi bertemu dengannya. Seingatku, aku bahkan belum 'melepasnya'.
Baiklah, kalau mau jujur, aku memang tidak pernah bicara dengannya
sejak 'pertemuan pertama' kami. Tapi, tetap saja, dia meninggalkan jejak
yang cukup dalam di hatiku. Tidak salah kan, kalau aku ingin melihatnya
untuk terakhir kalinya dan mengucapkan selamat tinggal dalam hati?
Sampai
detik ini, aku dan dia tidak ada hubungan apa pun. Apa aku menyesal
tidak pernah memberanikan diri dan bicara padanya? Tidak juga.. Aku bisa
merelakannya, kok. Entah bagaimana caranya, tapi aku bisa.
Tetapi,
aku tidak bisa melupakannya. Ibaratnya, dia berjalan dalam hatiku saat
hujan turun, dan meninggalkan jejak yang sulit dihilangkan karena tanah
yang basah akibat hujan.
Setiap kali hujan, aku selalu teringat
akan Kak Jackson. Cowok pertama yang aku suka. Cowok yang meninggalkan
jejak yang cukup dalam di hatiku. Dan cowok yang membuatku merasa
kehilangan.
No comments:
Post a Comment