Pages

Tuesday, October 22, 2013

When Rain Comes

Seumur hidup, belum pernah ada satupun anak laki-laki yang kusukai. Tidak pernah ada. Sementara teman-temanku sibuk mengejar 'gebetan'nya, aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka, memberi saran kepada mereka, dan lain sebagainya. Aku tidak keberatan jika mereka lebih sering melamunkan gebetan masing-masing daripada berbicara denganku. Toh, aku adalah kutu buku yang tidak banyak bicara dan lebih banyak membaca. Hahahahaha.. Tapi memang benar, aku merasa berada di dalam duniaku sepenuhnya ketika membaca. Pikiran dan perhatianku sepenuhnya tercurah ke dalam buku yang kubaca. Aku merasa sangat senang ketika membaca.
Tetapi suatu saat itu semua berubah. Perubahan yang terjadi secara perlahan-lahan hingga tak kusadari. Dan semuanya itu bermula di suatu hari Senin yang biasa.
Hari Senin itu, aku ada kelompok belajar biologi di sekolah sehingga akan pulang terlambat. Kelompokku terdiri dari 5 orang. Dan kami semua sedang mengerjakan soal dari buku paket saat hujan mulai turun dengan derasnya. Astagaa.. Gimana mau pulang nih? Aku menggerutu dalam hati, tetapi terus mengerjakan soal itu.
Waktu berlalu dan akhirnya aku pun selesai mengerjakan soal-soal yang ada. Tetapi ada satu soal yang tidak kumengerti. Saat kutanyakan pada Jessica, salah satu anggota kelompokku, ia mengaku tidak mengerti soal tersebut. Anggota kelompokku yang lain juga tidak tahu. Akhirnya Jessica memberi usul untuk bertanya kepada seorang kakak kelas 9 kenalannya yang kebetulan berada di dekat kami, mengobrol bersama teman-temannya. Kami semua setuju pada usul Jessica itu. Masalahnya, Jessica merasa takut dan sungkan karena melihat kakak kelas itu, yang bernama Jackson, sedang asik bercanda dan tertawa-tawa bersama teman-temannya yang lain. Padahal, Jessica adalah satu-satunya orang di kelompok kami yang mengenal Kak Jackson itu. Kan, tidak lucu, kalau ada orang yang tidak mengenal seseorang, tapi mau memanggil orang yang tidak dikenalnya itu! Akhirnya salah seorang anggota kelompok kami memberanikan diri memanggil Kak Jackson itu.
Ketika senior kami itu datang, Jessica segera menanyakan soal yang membuat kami bingung itu. "Boleh liat buku paket kalian ga?" Kak Jackson berkata. "Boleh pinjemin buku lu ga? Buku gue udah penuh coretan nih.. Hehehehehe.." Jessica menoleh kepadaku, nyengir. "Hahaha! Dasar! Okelah.." sahutku. Kemudian, dengan hati-hati kuberikan buku itu kepada Kak Jackson.
Yah, maklum lah, Jessica itu rajin belajar dan suka belajar dengan posisi tidur, jadi bukunya penuh coretan dan.. yaa bisa bisa dibilang agak 'berantakan'..  Sementara aku, walaupun nilai-nilaiku bagus (bukan bermaksud nyombong..), buku paketku masih mulus dan hanya ada sedikit coretan.
Setelah melihat-lihat buku paketku selama beberapa saat, Kak Jackson memberikan jawaban yang cukup memuaskan dan membuat kami jadi lebih mengerti. Apalagi, ketika kami tanyakan pada guru kami keesokkan harinya, ternyata jawaban dari Kak Jackson itu benar! Pinter juga tuh kakak kelas.. Padahal tampangnya nakal banget.. Hihihihihi..
Beberapa hari setelah itu, SMP kami mengadakan acara bersama. Dalam acara itu, aku tanpa sengaja melihat Kak Jackson sedang duduk bersama beberapa temannya. Saat itu aku sedang bersama Jessica dan Carla yang memang merupakan beberapa di antara sahabat-sahabat baikku. Di sela-sela acara aku beberapa kali mencuri pandang ke arah Kak Jackson. Entah alasan apa yang membuatku mencuri-curi pandang seperti itu, tetapi aku tidak bisa menahan keinginan itu. Padahal menurutku orang itu jelek, nakal, dan sama sekali tidak menarik. Tetapi kelihatannya hatiku berbeda pendapat dengan otakku..
Suatu saat, ketika aku meliriknya, aku melihat ia melihat ke arah kami. Atau lebih tepatnya, ke arah Jessica. Setidaknya itulah yang kulihat. Dan entah kenapa, hatiku terasa aneh. Sakit. Tetapi saat itu, aku belum menyadari 'perubahan' yang sedang terjadi.
Sejak acara sekolah itu, setiap kali melihat Kak Jackson jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, dan rasanya mukaku memerah. Dan akhirnya, aku pun menyadari apa yang terjadi. Aku, cewek yang biasanya paling anti-cowok, suka dengan seorang kakak kelas! Astaga! Itu sih seperti pungguk merindukan bulan! Aku saja baru kelas 7, seorang junior di SMP ini. Dan sekarang, aku malah suka dengan senior?
Tanpa aku sadari, aku lebih rajin belajar biologi. Buku paket biologi yang sebelumnya aku perlakukan cukup kasar karena ketidaksukaanku pada pelajaran biologi, kuperlakukan lebih lembut. Aku masih ingat pertama kalinya kami bertemu. Di tengah-tengah hujan di siang hari Senin. Bagaimana dia memegang bukuku itu dan caranya yang sabar dalam menjelaskan kepada kami tentang pertanyaan yang tidak kami mengerti itu. Astagaaaa! Kenapa aku jadi galau begini?
Hujan dan buku paket biologi. Sekarang hanya itu yang mengingatkanku pada Kak Jackson. Karena setelah melewati Ujian Nasionalnya dengan sukses, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Seingatku, aku bahkan belum 'melepasnya'. Baiklah, kalau mau jujur, aku memang tidak pernah bicara dengannya sejak 'pertemuan pertama' kami. Tapi, tetap saja, dia meninggalkan jejak yang cukup dalam di hatiku. Tidak salah kan, kalau aku ingin melihatnya untuk terakhir kalinya dan mengucapkan selamat tinggal dalam hati?
Sampai detik ini, aku dan dia tidak ada hubungan apa pun. Apa aku menyesal tidak pernah memberanikan diri dan bicara padanya? Tidak juga.. Aku bisa merelakannya, kok. Entah bagaimana caranya, tapi aku bisa.
Tetapi, aku tidak bisa melupakannya. Ibaratnya, dia berjalan dalam hatiku saat hujan turun, dan meninggalkan jejak yang sulit dihilangkan karena tanah yang basah akibat hujan.
Setiap kali hujan, aku selalu teringat akan Kak Jackson. Cowok pertama yang aku suka. Cowok yang meninggalkan jejak yang cukup dalam di hatiku. Dan cowok yang membuatku merasa kehilangan.